Makalah Obesitas

loading...
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
            Obesitas merupakan suatu keadaan fisiologis akibat dari penimbunan lemak secara berlebihan di dalam tubuh. Saat ini gizi lebih dan obesitas merupakan epidemik di negara maju, seperti Inggris, Brasil, Singapura dan dengan cepat berkembang di negara berkembang, terutama populasi kepulauan Pasifik dan negara Asia tertentu. Prevalensi obesitas meningkat secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir dan dianggap oleh banyak orang sebagai masalah kesehatan masyarakat yang utama (Lucy A. Bilaver,2009).
WHO menyatakan bahwa obesitas telah menjadi masalah dunia. Data yang dikumpulkan dari seluruh dunia memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan prevalensi overweight dan obesitas pada 10-15 tahun terakhir, saat ini diperkirakan sebanyak lebih dari 100 juta penduduk dunia menderita obesitas. Angka ini akan semakin meningkat dengan cepat. Jika keadaan ini terus berlanjut maka pada tahun 2230 diperkirakan 100% penduduk dunia akan menjadi obes (Sayoga dalam Rahmawaty, 2004). Panama dan Kuwait tercatat sebagai dua negara dengan prevalensi obesitas tertinggi di dunia, yakni sekitar 37%. Setelah itu Peru (32%) dan Amerika Serikat (31%). Di Brasil, kenaikan kasus obesitas terjadi pada anak-anak sebesar 239%.
            Di Eropa, Inggris menjadi negara nomor satu dalam kasus obesitas pada anak-anak, dengan angka prevalensi 36%. Disusul oleh Spanyol, dengan prevalensi 27% berdasarkan laporan Tim Obesitas Internasional (Cybermed, 2003).  Masalah obesitas meluas ke negara-negara berkembang: misalnya, di Thailand prevalensi obesitas pada 5-12 tahun anak-anak telah meningkat dari 12,2% menjadi 15,6% hanya dalam dua tahun (WHO, 2003).
Tingkat prevalensi obesitas di Cina mencapai 7,1% di Beijing dan 8,3% di Shanghai pada tahun 2000 (WHO, 2000). Prevalensi obesitas anak-anak usia 6 hingga 11 tahun sudah lebih dari dua kali lipat sejak tahun 1960-an (WHO, 2003). Selain itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, pada tahun 2005, secara global ada sekitar 1,6 miliar orang dewasa yang kelebihan berat badan atau overweight dan 400 juta di antaranya dikategorikan obesitas. Pada Tahun 2015 diprediksi kasus obesitas akan meningkat dua kali lipat dari angka itu.
            Obesitas di Indonesia sudah mulai dirasakan secara nasional dengan semakin meningginya angka kejadiannya. Selama ini, kegemukan di Indonesia belum menjadi sorotan karena masih disibukkan masalah anak yang kekurangan gizi. Meskipun obesitas di Indonesia belum mendapat perhatian khusus, namun kini sudah saatnya Indonesia mulai melirik masalah obesitas pada anak. Jika dibiarkan, akan mengganggu sumber daya manusia (SDM) di kemudian hari. Prevalensi obesitas di Indonesia mengalami peningkatan mencapai tingkat yang membahayakan. Berdasarkan data SUSENAS tahun 2004 prevalensi obesitas pada anak telah mencapai 11%. Di Indonesia hingga tahun 2005 prevalensi gizi baik 68,48%, gizi kurang 28%, gizi buruk 88%, dan gizi lebih 3,4% (Data SUSENAS,2005).

            Sedangkan berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, prevalensi nasional obesitas umum pada penduduk berusia ≥ 15 tahun adalah 10,3% terdiri dari (laki-laki 13,9%, perempuan 23,8%). Sedangkan prevalensi berat badan berlebih anak-anak usia 6-14 tahun pada laki-laki 9,5% dan pada perempuan 6,4%. Angka ini hampir sama dengan estimasi WHO sebesar 10% pada anak usia 5-17 tahun. 
            Menurut penelitian DR. Dr. Damayanti Rusli Sjarif, SpA(K) dari FKUI/RSCM bersama koleganya pada tahun 2002 melakukan penelitian di 10 kota-kota besar yaitu Medan, Padang, Palembang, Jakarta, Semarang, Solo, Jogkakarta, Surabaya, Denpasar, dan Manado dengan subyek siswa sekolah dasar.
Hasilnya memperlihatkan prevalensi obesitas pada anak sebesar 17,75 persen di Medan, Padang 7,1 persen, Palembang 13,2 persen, Jakarta 25 persen, Semarang 24,3 persen, Solo 2,1 persen, Jogjakarta 4 persen, Surabaya 11,4 persen, Denpasar 11,7 persen, dan Manado 5,3 persen. Menurut data Susenas tahun 1995 dan 1998 di Sulawesi Selatan. angka kegemukan cukup tinggi, yaitu dari 4,7% ke 6,22% dengan menggunakan indikator BB/U median baku WHO-NCHS. Hal ini menunjukkan jika masalah tersebut tidak segera diatasi, maka beban pemerintah khususnya Departemen Kesehatan akan semakin
bertambah (Kanwil Depkes, 1998).
            Sedangkan prevalensi obesitas pada kelompok umur 6-14 tahun berdasarkan Riskesdar 2007 di Sul-Sel terdapat 7,4% laki-laki dan 4,8% perempuan. Obesitas sendiri sekarang dikenal sebagai ajang reuni berbagai macam penyakit. Salah satunya Penyakit jantung koroner (PJK) yang merupakan kelainan pada satu atau lebih pembuluh arteri koroner dimana terdapat penebalan dinding dalam pembuluh darah (intima) disertai adanya aterosklerosis yang akan mempersempit lumen arteri koroner dan akhirnya akan mengganggu aliran darah ke otot jantung sehingga terjadi kerusakan dan gangguan pada otot jantung.
            Penyakit jantung koroner kerap diidentikkan dengan penyakit akibat “hidup enak”, yaitu terlalu banyak mengkonsumsi makanan mengandung lemak dan kolesterol. Hal ini semakin menjadi dengan kian membudayanya konsumsi makan siap saji alias junk food dalam kurun waktu satu dekade ini. Tak dapat dimungkiri, junk food telah menjadi bagian dari gaya hidup sebagian masyarakat di Indonesia.Lihat saja berbagai gerai yang terdapat di mal-mal, selalu penuh oleh pengunjung dengan beragam usia, dari kalangan anak-anak hingga dewasa.Padahal junk food banyak mengandung sodium, lemak jenuh dan kolesterol. Soium merupakan bagian dari garam. Bila tubuh terlalau banyak mengandung sodium,dapat meningkatkan aliran dan tekanan darah sehingga menyebabkan tekanan darah tinggi.
Tekanan darah tinggi lah yang dapat berpengaruh munculnya gangguan penyakit jantung. Lemak jenuh berbahaya bagi tubuh karena merangsang hati untuk memproduksi bnnyak kolesterol yang juga berperan akan munculnya penyakit jantung. Karena kolesterol yang mengendap lama-kelamaan akan menghambat aliran darah dan oksigen sehingga menggangu metabolisme sel otot jantung.
Dalam hal ini akan diuraikan pada kajian ini tentang apa yang disebut obesitas,apa penyebabnya, bagaimana konsekwensi obesitas pada penyakit jantung koroner, dan bagaimana mengatasinya. Selain itu akan dibahas lebih lanjut mengenai hubungan obesitas terhadap kejadian Penyakit Jantung Koroner  (PJK).

B.     Rumusan Masalah
1.     Apa defenisi Obesitas?
2.     Apa saja tipe-tipe Obesitas?
3.     Apa gejala-gejala timbulnya Obesitas?
4.     Apa penyebab timbulnya Obesitas?
5.     Bagaimana cara pengukuran Obesitas?
6.     Bagaimana mekanisme terjadinya Obesitas?
7.   Penyakit-penyakit yang timbul akibat obesitas?
8.     Bagaimana cara penanggulangan penyakit Obesitas?
9.     Apa program pemerintah dalam menurunkan angka penderita Obesitas?

C.    Tujuan
1.     Untuk mengetahui apa defenisi Obesitas
2.     Untuk mengetahui apa saja tipe-tipe Obesitas
3.     Untuk mengetahui apa gejala-gejala timbulnya Obesitas
4.     Untuk mengetahui apa penyebab timbulnya Obesitas
5.     Untuk mengetahui apa bagaimana cara pengukuran Obesitas
6.     Untuk mengetahui apa bagaimana mekanisme terjadinya Obesitas
7.   Untuk mengetahui apa penyakit-penyakit yang timbul akibat obesitas
8.     Untuk mengetahui apa bagaimana cara penanggulangan penyakit Obesitas
9.     Untuk mengetahui apa program pemerintah dalam menurunkan angka penderita Obesitas
  
BAB II

PEMBAHASAN


A.           Definisi Obesitas
               Obesitas adalah kelebihan lemak dalam tubuh, yang umumnya ditimbun dalam jaringan subkutan (bawah kulit), sekitar organ tubuh dan kadang terjadi perluasan ke dalam jaringan organnya (Misnadierly, 2007). Menurut WHO Obesitas adalah penumpukan lemak yang berlebihan ataupun abnormal yang dapat mengganggu kesehatan. Menurut Myers (2004), seseorang yang dikatakan obesitas apabila terjadi pertambahan atau pembesaran sel lemak tubuh mereka
  Obesitas merupakan keadaan yang menunjukkan ketidak seimbangan antara tinggi dan berat badan akibat jaringan lemak dalam tubuh sehingga terjadi kelebihan berat badan yang melampaui ukuran ideal (Sumanto, 2009).
               Terjadinya obesitas lebih ditentukan oleh terlalu banyaknya makan, terlalu sedikitnya aktivitas atau latihan fisik, maupun keduanya (Misnadierly, 2007). Dengan demikian tiap orang perlu memperhatikan banyaknya masukan makanan (disesuaikan dengan kebutuhan tenaga sehari-hari) dan aktivitas fisik yang dilakukan. Perhatian lebih besar mengenai kedua hal ini terutama diperlukan bagi mereka yang kebetulan berasal dari keluarga obesitas, berjenis kelamin wanita, pekerjaan banyak duduk, tidak senang melakukan olahraga, serta emosionalnya labil.
               Definisi Obesitas Obesitas dan kelebihan berat badan telah di dekade terakhir menjadi masalah global – menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali pada tahun 2005 sekitar 1,6 miliar orang dewasa diatas usia 15 + adalah kelebihan berat badan, setidaknya 400 juta orang dewasa yang gemuk dansetidaknya 20 juta anak di bawah usia 5 tahun yang kelebihan berat badan.Para ahli percaya jika kecenderungan ini terus berlangsung pada tahun 2015 sekitar 2,3 miliar orang dewasa akan kelebihan berat badan dan lebih dari 700 juta akan obesitas. Skala masalahobesitas memiliki sejumlah konsekuensi serius bagi individu dan sistem kesehatan pemerintah 
B.            Tipe-Tipe Obesitas
Tipe pada obesitas dapat dibedakan menjadi 2 klasifikasi, yaitu:
1.      Tipe obesitas berdasarkan bentuk tubuh dan
2.      Tipe obesitas berdasarkan keadaan sel lemak.

1.    Tipe Obesitas Berdasarkan Bentuk Tubuh
            a. Obesitas tipe buah apel (Apple Shape)
Type seperti ini biasanya terdapat pada pria. dimana lemak tertumpuk di sekitar perut. Resiko kesehatan pada tipe ini lebih tinggi dibandingkan dengan tipe buah pear (Gynoid),
            b. Obesitas tipe buah pear (Gynoid)
            Tipe ini cenderung dimiliki oleh wanita, lemak yang ada disimpan di sekitar pinggul dan bokong. Resiko terhadap penyakit pada tipe gynoid umumnya kecil.
            c. Tipe Ovid (Bentuk Kotak Buah)
Ciri dari tipe ini adalah "besar di seluruh bagian badan". Tipe Ovid umumnya terdapat pada orang-orang yang gemuk secara genetic.

2.    Tipe Obesitas Berdasarkan Keadaan Sel Lemak
a.  Obesitas Tipe Hyperplastik
            Obesitas terjadi karena jumlah sel lemak yang lebih banyak dibandingkan keadaan normal.
b.  Obesitas Tipe Hypertropik
            Obesitas terjadi karena ukuran sel lemak menjadi lebih besar dibandingkan keadaan normal,tetapi jumlah sel tidak bertambah banyak dari normal.
Obesitas Tipe Hyperplastik Dan Hypertropik Obesitas terjadi karena jumlah dan ukuran sel lemak melebihi normal.
Pembentukan sel lemak baru terjadi segera setelah derajat hypertropi mencapai maksimal dengan perantaraan suatu sinyal yang dikeluarkan oleh sel lemak yang mengalami hypertropik.

C.           Gejala Timbulnya Obesitas
               Penimbunan lemak yang berlebihan dibawah diafragma dan di dalam dinding dada bisa menekan paru-paru, sehingga timbul gangguan pernafasan dan sesak nafas, meskipun penderita hanya melakukan aktivitas yang ringan. Gangguan pernafasan bisa terjadi pada saat tidur dan menyebabkan terhentinya pernafasan untuk sementara waktu (tidur apneu), sehingga pada siang hari penderita sering merasa ngantuk.
Obesitas bisa menyebabkan berbagai masalah ortopedik, termasuk nyeri punggung bawah dan memperburuk osteoartritis (terutama di daerah pinggul, lutut dan pergelangan kaki). Juga kadang sering ditemukan kelainan kulit.           
Seseorang yang menderita obesitas memiliki permukaan tubuh yang relatif lebih sempit dibandingkan dengan berat badannya, sehingga panas tubuh tidak dapat dibuang secara efisien dan mengeluarkan keringat yang lebih banyak. Sering ditemukan edema (pembengkakan akibat penimbunan sejumlah cairan) di daerah tungkai dan pergelangan kaki.

D.           Penyebab Timbulnya Obesitas
Obesitas dapat terjadi karena faktor internal dan eksternal. Penyebab-penyebab tersebut antara lain adalah:
1.  Internal
     a. Genetik
     b. Endokrin
2.  Eksternal
     a. Gaya hidup atau tingkah laku
     b. Lingkungan dan faktor lain


1.      Internal
 a.  Genetik
           Seperti kondisi medis lainnya, obesitas adalah perpaduan antara genetik dan lingkungan. Gen yang ditemukan diduga dapat mempengaruhi jumlah dan besar sel lemak, distribusi lemak dan besar penggunaan energi untuk metabolisme saat tubuh istirahat. Polimorfisme dalam variasi gen mengontrol nafsu makan dan metabolisme menjadi predisposisi obesitas ketika adanya kalorui yang cukup.Prader-Willi Syndrome Selain itu, obesitas terjadi pada penderita Sindrom Prader-Willi adalah penyakit genetic yang menimpa kira-kira satu dari 15 ribu kelahiran. Mutasi gen terjadi pada kromosom ke 15 yang mengatur nafsu makan. Sindrom ini dikenali sebagai gen penyebab obesitas pada anak kecil. Symptoms yang timbul akibat sindrom ini disebabkan oleh disfungsi hipotalamus yang salah satu fungsinya adalah mengatur rasa lapar.
    
Jenis Kelamin
           Jenis kelamin berpengaruh terhadap obesitas. Pria memiliki lebih banyak otot dibandingkan dengan wanita. Otot membakar lebih banyak lemak daripada sel-sel lain. Oleh karena wanita lebih sedikit memiliki otot, maka wanita memperoleh kesempatan yang lebih kecil untuk membakar lemak. Hasilnya, wanita lebih berisiko mengalami obesitas.

b.  Kelainan endokrin
1)  Hipotiroidisme
     Hipotiroidisme terjadi ketika kelenjar tiroid tidak memproduksi hormone tiroid sesuai kebutuhan tubuh.
Oleh karena itu, apabila hormone tiroid yang dihasilkan tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh,  pertumbuhan akan terganggu. Hormon tiroid sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan tubuh. Terganggunya produksi hormon ini dapat mempengaruhi metabolisme, perkembangan otak, pernafasan, system jantung dan saraf, temperature tubuh, kekuatan otot, kulit, sirkulasi menstruasi pada wanita, berat badan, dan tingkat kolesterol. Produksi hormone tiroid diatur oleh hormone TSH yang diproduksi oleh hipofisis anterior. TSH akan merangsang kelenjar tiroid untuk mensekresi hormone tiroid, yaitu triidotironin (T3) dan tiroksin (T4). Apabila dalam darah terdapat sedikit hormone tiroid tersebut, maka kadar TSH akan meningkat untuk merangsang kelenjar tiroid mensekresi hormone tiroid. Sebaliknya, apabila dalam darah telah cukup atau bahkan lebih banyak terdapat hormone tiroid, kadar TSH akan menurun. Sekresi TSH diatur oleh hormone hipotalamus, yaitu TRH. Penurunan respons hipofisis terhadap TRH sangat jarang terjadi. Yang terjadi pada hipotiroidisme adalah kadar TSH meningkat akibat dari fungsi kelenjar tiroid yang menurun. Selain itu, hipotiroidisme dapat disebabkan oleh kelenjar hipofisis tidak bekerja dengan normal. Terganggunya kerja hipofisis dapat menyebabkan produksi TSH terganggu dan akibatnya kelenjar tiroid pun akan terganggu. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, hipotiroidisme menyebabkan metabolisme tubuh terganggu. Hipotiroidisme menyebabkan kecepatan metabolisme karbohidrat dan lemak menurun. Hal ini akan menyebabkan obesitas. Hipotiroidisme yang berat disebut Miksedema.



2)   Sindrom Cushing
         Sindrom Cushing disebabkan karena kadar cortisol berlebih. Hipotalamus mensekresikan CRH (Coticotropin releasing hormone) ke hipofisis. CRH menyebabkan hipofisis mensekresi ACTH (Adrenocorticotropin hormone) yang menstimulus kelenjar adrenal menghasilkan cortisol ke dalam darah. Tanda-tanda dan keluhan yang terjadi antara lain obesitas di bagian atas tubuh, wajah membulat, kulit terluka dengan mudah, lemah tulang, mentruasi tidak teratur pada wanita, dan
infertilitas pada pria.
3)   Kelainan pada Hipotalamus
          Pusat makan dan kenyang, yang mengatur rasa lapar dan kenyang, terdapat pada hipotalamus. Pusat kenyang berfungsi menghambat pusat makan, begitu pula sebaliknya. Yang mengatur semua hal tersebut adalah polipeptida. Polipeptida tersebut antara lain adalah neuropeptida Y dan Leptin. Neuropeptida Y meningkatkan nafsu makan sedangkan leptin menurunkan nafsu makan dan meningkatkan konsumsi energi.
Obesitas terjadi apabila leptin tidak tersedia di otak atau rusak. Yang terjadi adalah gen reseptor leptin mengalami defek. Reseptor leptin terdapat pada jaringan adipose coklat. Kemungkinan lainnya adalah terganggunya transportasi leptin ke dalam otak atau defek dalam mekanisme yang diaktifkan oleh gen manusia. Leptin menyebabkan peningkatan lipólisis dan penurunan lipogenesis. Selain itu, leptin merangsang sekresi insulin.

2.    Eksternal
a. Gaya hidup atau Tingkah Laku
           Kemajuan teknologi, seperti adanya kendaraan bermotor, lift, dan lain sebagainya dapat memicu terjadinya obesitas karena kurangnya aktifitas fisik yang dilakukan oleh sesorang. Gaya hidup yang seperti ini yang meningkatkan risiko obesitas. Mengonsumsi makanan junk food juga dapat menyebabkan obesitas karena pada umumnya berkalori tingggi.

b.  Lingkungan dan faktor lain
           Obesitas juga dapat disebabkan oleh emosi. Orang mungkin makan berlebihan ketika depresi, merasa putus asa, marah, bosan, dan berbagai sebab lain yang sebenarnya tidak butuh makan. Ini umum terjadi pada wanita muda. Perasaan mereka berpengaruh terhadap kebiasaan makanya. Selain itu, factor ststus sosial dan ekonomi sangat memengaruhi. Pada masyarakat menengah ke bawah, obesitas sangat identik dengan makmur. Namun, pada masyarakat modern, obesitas adalah hal yang harus dihindari.

E.            Cara pengukuran Obesitas
Pada umumnya Obesitas dapat dibagi atas dua kelompok besar, yaitu Obesitas tipe Android dan Obesitas tipe Gynoid.
1.      Obesitas tipe Android
         Badan berbentuk gendut seperti gentong atau buah apel, perut membuncit kedepan, banyak didapatkan pada kaum pria, sehingga disebut pula obesitas tipe pria atau male type obesity. Tipe ini cenderung mengakibatkan penyakit jantung koroner, diabetes, dan stroke. Nama lain obesitas tipe ini adalah obesitas tipe sentral (central obesity), abdominal obesity, atau visceral obesity.
Disebut obesitas viseral karena penimbunan lemak terjadi di dalam rongga perut (abdomen), tepatnya di sekitar omentum usus (viseral). Lemak viseral yang berlebihan ini memperoleh suplai darah dari pembuluh darah omentum, dan mengeluarkan banyak bahan kimia dan hormone ke dalam peredaran darah. Banyaknya lemak yang tertimbun dalam rongga perut mencerminkan makin lebarnya lingkaran pinggang (waist circumference) orang itu.
2.        Obesitas tipe Gynoid
Banyak dijumpai pada kaum wanita, terutama yang telah masuk masa menopause, panggul dan pantatnya besar, dari jauh tampak seperti buah pir. Tipe ini dinamakan juga obesitas tipe wanita atau female-type obesity. Nama lain tipe ini adalah obesitas tipe perifer (peripheral obesity), atau gluteal obesity (dari kata gluteus yang berarti pantat).
Adapun cara menentukan derajat obesitas yang paling sering dipakai adalah dengan mengukur Body Mass Index atau BMI, yaitu dengan mengukur tinggi badan (dalam meter) dan berat badan (dalam kilogram), kemudian membagi berat badan dengan kuadrat dari tinggi badan. Lihat Rumus dibawah ini:
BMI = Berat Badan / ((Tinggi Badan (m)) x (Tinggi Badan  (m)))
Contoh seseorang dengan berat badan 70 kg dan tinggi badan 160 cm, maka didapatkan
BMI = 70 / (1.6 x 1.6) = 27.3 (Gemuk)


KLASIFIKASI OBESITAS WHO
BMI                            
POPULER / UMUM
(kg/m2)
Underweight
Kurus
< 18,5
Healthy weight
Normal
18,5 – 24,9
Obesitas derajat 1
Overweight / Gemuk
25 – 29,9
Obesitas derajat 2
Obesitas
30 – 39,9
Obesitas derajat 3
Obesitas Morbid / Berat
> 40







Menurut WHO, BMI orang normal adalah 18,5 – 24,9. BMI kurang dari 18,5 dikatakan kurus. Sedangkan BMI 25 keatas disebut obesitas, yang dibagi pula dalam obesitas derajat satu (BMI 25 – 29,9), obesitas derajat dua (BMI 30 – 39,9), dan obesitas derajat tiga atau morbid / severe obesity (BMI 40 atau lebih). Untuk lebih rincinya, berikut adalah table klasifikasi obesitas menurut WHO dan umum:
           Berat badan yang sehat, normal, atau ideal (Healthy Weight) adalah berat badan yang bukan Underweight, bukan pula Overweight (Kegemukan) atau obesitas, berarti BMI 20 – 25, lingkar pinggang dibawah 88 cm untuk wanita dan di bawah 102 cm untuk pria.

F.                   Mekanisme terjadinya obesitas
            Obesitas terjadi karena energi intake lebih besar dari energi expenditure. Apapun penyebabnya, yang menjadikan seseorang obesitas pada dasarnya adalah energi intake atau masukan yang didapat dari makanan atau lainnya lebih besar dibandingkan energi expenditure atau energi yang dikeluarkan.
Mekanisme dasar terjadinya kegemukan adalah masukan kalori & nbsp; yang melebihi pemakaian kalori untuk memelihara dan pemulihan kesehatan yang ,berlangsung lama. Kelebihan kalori tersebut akan disimpan dalam bentuk lemak, yang lama kelamaan akan mengakibatkan kegemukan.

G.           Penyakit-penyakit yang timbul akibat obesitas
Namun, berapa pun pertambahan berat badan Anda dan menimbulkan obesitas, semua memiliki dampak buruk bagi kesehatan. Pasalnya, obesitas memicu beragam penyakit di dalam tubuh. Dikutip dari Times of India, setidaknya ada 10 penyakit yang muncul dari kondisi seseorang yang mengalami kegemukan:
1.      Diabetes tipe 2. Banyak studi mengungkapkan obesitas berkaitan dengan risiko diabetes. Bahkan, jika sudah kena penyakit ini maka bisa menjalar untuk mengalami komplikasi penyakit yang lebih serius. Misalnya serangan jantung, stroke, kebutaan, gagal ginjal, hingga kerusakan saraf yang berujung amputasi.
2.      Serangan jantung. Lemak dalam tubuh bisa menutupi pembuluh darah jantung dan menyumbatnya. Ini yang kemudian menyebabkan serangan jantung koroner.
3.      Hipertensi. Orang gemuk cenderung memiliki tekanan darah tinggi. Hal ini bisa diatasi dengan mengurangi berat badan dan berolahraga.
4.      Sleep apnea. Tandanya adalah sulit tidur nyenyak dan suka mengorok saat tidur. Ini adalah gangguan pernafasan yang membuat jalan udara seakan berhenti beberapa kali kala terlelap. Sleep apne dikaitkan dengan kemunculan hipertensi, gagal jantung, dan penyakit lainnya.
5.      Asam urat. Orang obesitas empat kali lebih berisiko mengalami asam urat atau gout. Penyakit ini menyerang sendi yang diakibatkan tingginya kadar purin di daerah sendi. Sendi bisa bengkak, memerah, dan nyeri. Mengurangi berat badan bisa menjadi salah satu solusi.
6.      Kolesterol tinggi. Kegemukan cenderung memicu tingginya kolesterol jahat (LDL) ketimbang kolesterol baik (HDL). Banyaknya kolesterol jahat menjadi penyebab penyakit kardiovaskular dan stoke.
7.      GERD atau refluks asam. Obesitas meningkatkan refluks karena lemak perut memberikan tekanan pada cincin otot yang ada di bawah kerongkongan. Ukuran tabung cincin ini sekitar 10 inci yang menghubungkan tenggorokan ke perut. Dalam kondisi tidak obesitas, fungsinya mencegah kembalinya asam lambung ke kerongkongan.
8.      Osteoarthritis. Kelebihan berat badan menyebabkan sendi mengalami tekanan berlebih untuk menopang tubuh. Akibatnya, dimungkinkan sendi mengalami osteoarthritis yang justru akan merusaknya dalam jangka panjang.
9.      Kanker. Obesitas punya peran penting dalam pembentukan sel kanker secara aktif. Dan, risiko kanker yang kerap ditemui pada tubuh gemuk adalah kanker usus, payudara, dan tenggorokan.
10.  Gagal jantung. Peningkatan indeks massa tubuh dikaitkan dengan peningkatan risiko gagal jantung.

H.           Cara penanggulangan obesitas
               Menurut perhimpunan Studi Obesitas Indonesia atau Indonesian Society for the Study of Obesity, penanganan kegemukan dilaksanakan berpedoman pada lima prinsip yaitu:

1.      Motivasi
         Jika seseorang menganggap gemuk bukan hal yang merisaukan, tentu program penurunan berat badan tidak akan berhasil. Sebagai contoh ada seorang pembawa acara yang berbadan gemuk dan senang akan kondisi tubuhnya. Beberapa kali diwawancarai, yang bersangkutan dengan semangat mengatakan bahwa ia tidak akan menurunkan berat badannya. Tetapi apa yang terjadi? Saat ini terlihat sang presenter kurus akibat mengalami penyakit tertentu.
         Sebelum memulai program penurunan berat badan, pertama-tama yang harus diubah adalah pola pikir dari orang gemuk. Motivasi menjadi kurus harus kuat tertanam di dalam dirinya, bukan sekedar ikut-ikutan karena misalnya baru saja membaca tulisan ini. Motivasi ini bis diperkuat dengan bergabung dalam kelompok mereka yang mempunyai program sama, berdiskusi dengan pakarnya, dan lain sebagainya. Biasanya dalam kelompok, para anggota bisa saling mengingatkan dan saling berkompetisi. Begitu pula dengan adanya pakar dalam kelompok tersebut, usaha yang dilakukan menjadi sistematik dan terarah. Adalah lebih baik jika penurunan berat badan dilakukan pada saat belum mengalami kondisi penyakit tertentu, bukan akibat dari penyakit yang diderita.

2.   Pengaturan Diet
        Makin gemuk seseorang maka makin mudah untuk merasa lapar. Ini karena pengaruh zat/hormon yang terdapat dalam sel-sel lemak. Maka usaha pembatasan diet harus dilakukan sesegera mungkin. Jika yang bersangkutan menganggap bahwa usaha pembatasan diet bisa dilakukan kapan saja (tetapi tidak saat ini), tentu usahanya menjadi lebih sulit. Karena itu, pada saat ini juga, tetapkanlah bahwa saya harus membatasi diet saya, sebelum menjadi lebih gemuk lagi dengan risiko lebih susah lagi untuk berdiet. Carilah makanan yang rendah kalori. Mulailah hari kita hanya dengan mengonsumsi setengah dari porsi makan Anda sehari-hari. Semua porsi yang kita makan dikurangi separoh. Itu saja. Jangan lupa pula membatasi makanan manis, asin, dan lemak. Tetapi harus diingat, jangan sampai kebablasan mengatasi kegemukan. Anjuran WHO, jumlah penurunan massa tubuh yang baik dan aman adalah sekitar setengah hingga 1 kg per minggu.

3.   Pola Hidup Sehat
         Selain pengaturan diet, biasakanlah menimbang badan Anda untuk mengevaluasi usaha Anda. Hal ini kelihatan sepele namun memberi efek yang tidak kalah besarnya dengan program diet itu sendiri. Begitu pula dengan berolahraga, lakukan dengan baik dan benar.



4.   Terapi Kedokteran
         Meskipun banyak obat-obatan yang ditawarkan agar bisa menjadi langsing, namun sebaiknya sebelum menggunakan obat-obatan, berkonsultasi dulu dengan dokter. Tanyakanlah bagaimana cara kerja, efek samping, atau bahaya jika obat tersebut secara berlebihan terdapat dalam tubuh. Obat yang cocok pada seseorang belum tentu cocok dan sesuai pada orang lain. Lagi pula, program penurunan berat badan tidak bisa hanya bergantung pada obat-obatan.

5.   Pembedahan
         Pembedahan berupa pengambilan lemak perut (omentum) dilakukan jika seseorang telah memiliki BMI sama atau lebih dari 40. Selain itu bisa juga dilakukan pada BMI kurang dari 35 jikalau telah memiliki penyakit yang bisa mengancam jiwa akibat berat tubuh berlebihan.
I.               Program  Pemerintah
Program Nasional di bidang kesehatan :
a.  Lingkungan sehat,Perilaku sehat,dan pemberdayaan masyarakat
b.  Upaya Kesehatan
c.   Perbaikan Gizi Masyarakat
d.  Sumber Daya Kesehatan
e.  Obat,Makan dan Bahan Berbahaya
f.    Kebijakan dan Manajemen Pembangunan Kesehatan
Pogram Kesehatan Kota Makassar
a.    Peningkatan Sarana dan Prasarana
b.    Pencegahan dan Pemberantasan penyakit menular
c.    Penanggulangan Gizi Buruk
d.    Kesehatan Ibu dan Anak
                                       
                                                 
               Tugas utama kesehatan adalah memelihara dan meningkatkan kesehatan segenap warga negaranya yaitu setiap individu, keluarga dan masyarakat Indonesia tanpa meninggalkan upaya penyembuhan  penyakit, pemulihan kesehatan dan perbaikan kualitas lingkungannya.
               Titik berat Pembangunan Nasional yang telah dicanangkan oleh Presiden RI pada tanggal  1 Maret 1999 yaitu Pembangunan Nasional Berwawasan Kesehatan yang artinya setiap sektor harus mempertimbangkan aspek kesehatan dalam setiap program pembangunan. Hal ini berarti pula kesehatan  merupakan bagian integral dari program pembangunan nasional (Propenas) yang juga telah ditetapkan melalui Undang-undang Nomor 25 Tahun 2000.
               Namun,meskipun sudah dicanangkannya berbagai program kesehatan baik tingkat nasional maupun provensi dan kab/kota tapi belum juga menunjukkan hasil yang signifikan dalam hal penurunan prevalensi Obesitas.Prevalensi obesitas di Indonesia mengalami peningkatan mencapai tingkat yang membahayakan. Ditinjau dari Prevalensi obesitas di Indonesia yang terus mengalami peningkatan mencapai tingkat yang membahayakan. Ini menunjukkan bahwa pemerintah belum mampu menangani kasus penderita Obesitas.Berdasarkan data SUSENAS tahun 2004 prevalensi obesitas pada anak telah mencapai 11%. Di Indonesia hingga tahun 2005 prevalensi gizi baik 68,48%, gizi kurang 28%, gizi buruk 88%, dan gizi
lebih 3,4% (Data SUSENAS, 2005).
               Sedangkan berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, prevalensi nasional obesitas umum pada penduduk berusia ≥ 15 tahun adalah 10,3% terdiri dari (laki-laki 13,9%, perempuan 23,8%). Sedangkan prevalensi berat badan berlebih anak-anak usia 6-14 tahun pada laki-laki 9,5% dan pada perempuan 6,4%. Angka ini hampir sama dengan estimasi WHO sebesar 10% pada anak usia 5-17 tahun. 
               Menurut data Susenas tahun 1995 dan 1998 di Sulawesi Selatan. angka kegemukan cukup tinggi, yaitu dari 4,7% ke 6,22% dengan menggunakan indikator BB/U median baku WHO-NCHS. Hal ini menunjukkan jika masalah tersebut tidak segera diatasi, maka beban pemerintah khususnya Departemen Kesehatan akan semakin bertambah  (Kanwil Depkes,1998). Sedangkan prevalensi obesitas pada kelompok umur 6-14 tahun berdasarkan Riskesdar 2007 di Sul-Sel terdapat 7,4% laki-laki dan 4,8% perempuan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, pada tahun 2005, secara global ada sekitar 1,6 miliar orang dewasa yang kelebihan berat badan atau overweight dan 400 juta di antaranya dikategorikan obesitas.
               Penelitian Obesitas yang dilakukan di RSUP.DR Wahidin Sudirohusodo Makassar Tahun 2007 selama kurang lebih 1 bulan (21 Mei – 21 Juni 2007) bahwa ada 68 responden yang obesitas.
            Data-data tersebut merupakan indicator penilaian bahwa belum berhasilnya program-program pemerintah di bidang kesehatan khususnya status gizi karena prevalensi penderita obesitas masih meningkat tiap tahunnya.











BAB III

PENUTUP


A.      Kesimpulan
1.    Obesitas merupakan suatu penyakit multifaktorial yang terjadi akibat akumulasi jaringan lemak yang berlebihan dan dapat mengganggu kesehatan. Obesitas terjadi bila ukuran dan jumlah sel lemak bertambah.
2.    WHO menyatakan bahwa obesitas telah menjadi masalah dunia. Data yang dikumpulkan dari seluruh dunia memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan prevalensi overweight dan obesitas pada 10-15 tahun terakhir, saat ini diperkirakan sebanyak lebih dari 100 juta penduduk dunia menderita obesitas.
3.    Obesitas merupakan suatu faktor risiko Penyakit Jantung Koroner (PJK)  serta meningkatkan mortalitas dan morbiditas kardiovaskuler secara  Langsung  maupun tidak langsung.

B.    Saran
1.    Bagi penderita obesitas disarankan untuk bisa memilih makanan yang baik dan sehat serta sesuai dengan kecukupan tubuhnya. Pengurangan kalori dan meningkatkan olah raga merupakan cara alami yang  murah meskipun tidak mudah untuk mempertahankan  dalam jangka waktu   lama.
2.    Bila perubahan cara hidup gagal menurunkan Berat Badan , perlu    diberikan obat    obat-obatan yang aman dan efektif , sebaiknya dipilih    obat yang bekerja lokal    pada usus  karena efek samping nya lebih kecil    dibandingkan dengan yang    sistemis.
3.    Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan desain penelitian longitudinal untuk mengetahui determinan Penyakit Jantung Koroner (PJK) .Peneliti selanjutnya perlu melakukan penelitian tentang hubungan obesitas terhadap faktor resiko kejadian Penyakit Jantung Koroner (PJK).

Daftar Pustaka
.  
Anonim.2007.Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2007.(Online),  http://dinkessulsel.go.id/new/images/profil_kab/profil%20makassar-2007.pdf,diakses 14 April 2014
Arul.2009.Obesitas.(Online),  http://adul2008.wordpress.com/2009/04/11/obesita/, diakses 14 April 2014.
Fadilah.2011.Obesitas dan Penyakit Jantung Koroner.Artikel Ilmu Penyakit Dalam.(Online), http://dokternetworkangk97.blogspot.com/2011/01/obesitas-dan-penyakit-jantung-koroner.html, diakses 14 April 2014.
Gusmiati.2011.FastFood,pemicuobesitasdanpenyakitjantung.(Online),(http://www.primaironline.com/berita/rileks/535304-fast-food-pemicu-obesitas-dan-penyakit-jantung,diakses 14 April 2014.
Indarto.2008.FaktorpenyebabObesitas.(Online),
Jungelian.2008.Mari mengenal lebih jauh tentang jantung koroner.(Online),
               http://www.indoforum.org/t39007/,diakses 14 April 2014.
Kuncoro, T. 1996. Pengembangan Kurikulum Pelatihan Magang di STM Nasional Malang Jurusan Bangunan, Program Studi Bangunan Gedung: Suatu Studi Berdasarkan Kebutuhan Dunia Usaha Jasa Konstruksi . Tesis tidak diterbitkan. Malang: PPS IKIP MALANG34.    
 Zullies.2009.MenumpasObesitas.(Online),




loading...

No comments:

Post a Comment

Terimakasih Telah Mengunjungi Blog Ini, Silahkan Berikan Komentar dan Saran Anda

Teman Anda Sering Mengunjungi Ini: